Aku, Kamu dan Cinta

Puisiku, Ungkapan Hatiku

Menanti Embun 01/06/1993

Filed under: petualang — sangpencintamu @ 9:03 AM

Entahlah, kesepian kurasakan kian memuncak
sedang malam belum terlalu larut
mungkin karena tak terdengar bunyi jangkerik, decak cicak
atau hatiku telah begitu kecut.
Ada kegelisahan, ada kegelisahan
lalu pelan-pelan ketakutan turut menggayut
inderaku, satu-satu hilang peran
berpegang keyakinan, masih kuhanyut.
Malangnya kau, bulan
berteman denganku selama ini
hanya mendengarkan cerita-ceritaku
yang tuli buta akan kisahmu
Malam sampai ke puncak
kegelisahan dan ketakutan tambah besar
panas, bertambah panas itu membakar
buah itu telah termakan
menggelitik-gelitik kerongkongan
bagai bara.
Waktu terus bergulir kesepian itu makin mengiris
yang kunanti belum jua menemuiku
mungkin karena ia malas membagi tiris
atau hatinya telah beku untuk aku.
Ada kegelisahan, ada kegelisahan
lalu kian cepat pula jiwaku luluh
tanpa teman, menatap bulan sendirian
tak kusadari keyakinan pergi pula menjauh
tak tahulah aku mengapa diri bagai terpanggang
sedang tetes embun pun enggan datang.

Bandung, 1993.

Advertisements
 

Barangkali Telah Kuseka Namamu

Filed under: para dara — sangpencintamu @ 8:48 AM

-maaf G., ini sajak cinta

Kita pun tamat
lah terkubur kenangan di pemakaman tadi malam
bahkan dalam lembar terakhir surat
lah kau sesal penyesalan yang kejam

Bukan, bukan salahmu
kalau kutinggal kau tergolek
di atas ranjang tanpa bunga
lantas pergi jauh bersama keringat

:beginilah cinta kita tergurat di garis tangan

Kukira kita cuma tak sepaham
dan ku pun tak pernah rela dituntut
kau tetaplah seharum dulu, mekar
dan ribuan goda mengitari wajah bulatmu

Begitulah, kita pun pisah
tak terlintas di benak akan ada lain betina
yang mampu berbantah-bantah
mengambil tempat berhias di dalam dada

:lin, beginilah cinta kita tersurat
barangkali telah kuseka namamu -kata menyayat
yang kudapat dari sajak Goenawan Mohamad-
agar ku sendiri bisa yakin kalau kita benar tamat.

Barang kali telah kuseka namamu
ya, barangkali memang telah kuseka namamu
sampai kiamat.

Bandung, 1993