Aku, Kamu dan Cinta

Puisiku, Ungkapan Hatiku

PADAMU AKU MENGADU 29/04/2009

Filed under: aku,dreW — sangpencintamu @ 5:31 AM

padamu aku mengadu
tentang prahara hati dan ruang bathin
sebab
padamu aku bisa tersedu

dalam kebimbangan lelaki ini
adalah suaramu yang menentramkan
dalam ketakutan lelaki ini
adalah suaramu yang menguatkan

padamu aku mengadu
ketika rasa percaya dicampakkan
sebab
padamu aku tak bisa membisu

dan jika kandas semua perjuanganku
dan jika karam kapal pengorbananku
dan jika berai bahtera ibadahku
padamu aku mengadu

makin aku tak yakin pada ini semua yang aku jalani
makin kuat aku rasa kau mengiringi diri
kau datang di saat yang tepat
ketika rentangan hidup makin renggang sangat

dan jika satu saat lelaki ini kecewa pada diri dan hidupnya
jangan pernah kau pergi
jangan pernah kau lari
karena sesungguhnya hanya ada satu sebab

padamu aku mengadu
padamu aku tersedu
padamu aku mengadu
padamu
aku mengadu

padamu
aku
mengadu
tersedu

Advertisements
 

SAJAK SUNYI SEORANG LELAKI 22/04/2009

Filed under: aku — sangpencintamu @ 3:23 PM

malam yang gerah, hujan belum sampai waktu
sepi sekali, bahkan bulan bersembunyi
tak ada teman bercakap, waktu seolah membatu
dan aku tercampakkan dalam kawah sunyi

adakah yang menangkap kesahku?
ketika ketakutan mulai menghantu
terus hidup menjadi membeku
tak ada siapapun dapat membantu

keajaiban datanglah, keajaiban hadirlah
karena sunyi ini siap membunuh
karena sunyi ini bisa meluluh lantakkan kehidupan

:pada bidadari kutitip pesan
terima kasih, tulus dan terdalam.

 

RESAH HATI SEORANG LELAKI 20/04/2009

Filed under: aku — sangpencintamu @ 11:57 PM

malam menjadi kawan yang setia mendengar keluh kesahku
sebab malam adalah pendengar tanpa pamrih
malam pula yang akan memberikan banyak cara dan kesempatan
untuk menjalani semua tanpa rencana

berdiri di sini, langkah sudah tak tentu arah
berhenti dari perjalanan menatap gamang tapal batas keakuan
lalu terkapar,
menahan tangis di lantai usang

cinta menari-nari, nyaris jadi ejekan pada nurani
masa lalu adalah kepahitan yang harus ditelan
semua yang dilakukan saat ini hanya kedok
sebab cinta sudah tidak lagi bertahta di hatinya

resahku memuncak
apa segalanya harus kulepas saja
biar dosa akan menjadi dosa seutuhnya
biar beban akan menjadi beban sebenarnya

masihkah ada asa buat terus bersama?
sementara kurasa tamanku telah porak poranda
dihempaskan topan prahara dari seberang
yang membuat aku sadar akan kenyataan dan realita

sudahlah, sudah. aku hadapi saja segala resikonya!

 

HENING 25/03/2009

Filed under: aku — sangpencintamu @ 9:47 PM

kali ini aku hanya mau diam
:dan merenung tentang semua cinta yang terasa hilang tadi malam

-juga seberapa besar kebodohan itu harus kita bayar-

 

20/10/1998

Filed under: aku — sangpencintamu @ 9:47 AM

dering telepon,
seseorang berkata, “aku malakulmaut!”
mungkin aku saat itu tertawa.

namun saat malam turun,
bintang dan bulan bermain sandiwara,
aku terhenyak, penelpon itu datang
mengganggu mimpi basah laki-laki
tengah bergelut dengan nafas hangat
istri orang lain.

ada pula sampah, koran bekas di tidur!
ternyata ancaman itu datangnya dari tamu
yang tak pernah mau telat, tak pernah terlambat
aku menangis.

keduaan manusia, ketunggalan manusia
cinta, nafsu birahi, fana semua.

sadar, bahwa cinta tak hanya terancam oleh maut
aku pun lalu tak berani lagi
bermain-main dengan ketaksetiaan, kepengecutan,
dan permainan.
( ti, ini tentang cintaku! )

 

Keresahan 22/10/1993

Filed under: aku — sangpencintamu @ 8:33 AM
Ada yang ingin kuungkapkan
lewat kata-kata di malam-malam yang terasa
sangat panjang
Tapi, ku takut kata-kata itu
akan jadi kehilangan arti, ketika
hati ini menjerit ketakutan
Lalu aku akhirnyahanya dapat bercerita
sekaligus memaki kebodohan diri sendiri
yang tak dapat berteguh pada janji
Makinlah, suara-suara tawa berderai-derai di rongga telinga
aku tak dapat mengusirnya
tak dapat lari darinya, menjauhinya

ketakutan itu begitu mencengkeramku
pergilah, pergi
biar kuhadapi segala belati.

Bandung, 22 Oktober 1993
 

A. 20/05/1993

Filed under: aku — sangpencintamu @ 8:40 AM

=ego vii=

Ya, akulah pengembara itu

yang selusupi urat nadi bumi ibuku

merayapi kesunyian dan sendiri

menapaki gulana malam hari.

Ya, akulah penyair itu

yang mengucap setumpuk rindu

memuja kecintaan batin murni

menggelepar, gelisah impikan hakiki

Aku mengawang, dari sana kulambai-lambaikan tangan

aku mengecup pucuk kisah

melumat masa lalu dan tangisan

dalam hangatnya tawaran cintamu.

:namun sekali waktu

kurambah lagi luasnya pengorbanan.

Buat temukan siapa aku.

Bandung, 1993