Aku, Kamu dan Cinta

Puisiku, Ungkapan Hatiku

Barangkali Telah Kuseka Namamu 01/06/1993

Filed under: para dara — sangpencintamu @ 8:48 AM

-maaf G., ini sajak cinta

Kita pun tamat
lah terkubur kenangan di pemakaman tadi malam
bahkan dalam lembar terakhir surat
lah kau sesal penyesalan yang kejam

Bukan, bukan salahmu
kalau kutinggal kau tergolek
di atas ranjang tanpa bunga
lantas pergi jauh bersama keringat

:beginilah cinta kita tergurat di garis tangan

Kukira kita cuma tak sepaham
dan ku pun tak pernah rela dituntut
kau tetaplah seharum dulu, mekar
dan ribuan goda mengitari wajah bulatmu

Begitulah, kita pun pisah
tak terlintas di benak akan ada lain betina
yang mampu berbantah-bantah
mengambil tempat berhias di dalam dada

:lin, beginilah cinta kita tersurat
barangkali telah kuseka namamu -kata menyayat
yang kudapat dari sajak Goenawan Mohamad-
agar ku sendiri bisa yakin kalau kita benar tamat.

Barang kali telah kuseka namamu
ya, barangkali memang telah kuseka namamu
sampai kiamat.

Bandung, 1993

Advertisements
 

Tentang Dua Orang 19/05/1993

Filed under: para dara — sangpencintamu @ 8:04 AM

-pada U.

Lalu kupikir akulah srigalanya
dan kau dalam sadar berlaku jadi kelinci
mengapa? Lalu kau tiba-tiba bisa menjelma singa.
Jangan kau harap jawabnya tiba
bersama angin yang berbantun dan terantuk
dahan juga ranting. -masalah-
Kita cuma dua egois yang ganas dan bebas
tak peduli, bahkan tak pernah beranggapan
ada egois-egois lain selain kita
lucunya pula, kita tak pernah mau
untuk saling mengalah.

:Kau teriak lagi!
dalam lembutmu kau tak pernah hendak jadi korbanku!
Mengapa kau jadi kelinci berparfum Yves?

:ngusap kepalaku, ngecup keningku
tapi jangan terkam aku -rintih-

Laparlah srigala itu, nafsunya tiba puncak
sedang kelinci berkaca-kaca matanya, iba srigala.
“baiklah, kukunyah saja ekor sendiri!”
Ah, srigala itu kehilangan ekor, kelinci yang singa tertawa
( ah, egois satu mengganti celana dalam yang kotor! )

Cihampelas, 1993

 

Short Story of August 15/01/1993

Filed under: para dara — sangpencintamu @ 8:21 AM

Bukan aku tak menyadari
bahwa tiada kekecewaan di perpisahan
aku pun menyesal di sini
namun penyesalan selalu terlambat
juga permohonan maaf.
Aku berdiri di sini
menatap langit yang jadi merah
tiba-tiba, aku terpaku
pasir
laut
camar
dan ombak,
kali ini tak bisa lagi menentramkan
batin pengecut ini.
Aku kecap air mata di sini
dan biasanya mengiringi lagu-lagu
kita. -Sayangnya bukan air mata kita-
diah, ‘pabila kenangan mengoyak hatimu
hingga jadi ribuan serpih
maafkan aku. -sayangnya bukan mau kita-

 

Mawar Setangkai dan Sebentuk Cincin 14/01/1993

Filed under: para dara — sangpencintamu @ 8:29 AM

Aku terima sepucuk surat, berisi ucap selamat ulang tahun.
Beserta mawar setangkai yang telah menghitam kering dan
sebentuk cincin yang telah menghitam aus.
Beserta berita :HUjan deras mengguyur hatiku.
Mawar setangkai dan sebentuk cincin tanda mata yang terlupa,
insyaflah aku bahwa kita telah bercinta begitu lama
dan pengorbanan yang tidak terhitung banyaknya
-berlalu-.

Bdg, 14 Jan 1993

 

Sajak Ulang Tahun 16/08/1992

Filed under: para dara — sangpencintamu @ 2:05 PM

pada M

Keraguan yang memuncak di saat
akan meniup lilin, pertama.
Ah, kita beri kelir apa lilin itu
seperti warna bintang, kataku
‘seperti warna mawar’ bisikmu
aku tersenyum. :Begini sederhana:
Atau tanpa warna-warni, biar polos
seperti kita.
Mungkin, mungkin, kita buat marak
dengan usapan beribu kuas.
Ah, sudah kau tiupkah lilin itu
kau tatapkah bintang
kau salamikah rembulan yang masih malu
diselaputi mega.
Tersenyumkah mereka.
‘Lanjutkanlah’ desahmu.
Aku cinta kau, benar. Kau malu.
Benar.

Ini lilin pertama, kasih.
:Selamat ulang tahun
Kemari, kukecup bibirmu

( Keraguan itu coba kuenyahkan, janji )

 

Besok 17/05/1991

Filed under: para dara — sangpencintamu @ 1:45 PM

Kuyakin
Kembalinya di samar jiwa
Kiranya tak mudah
Karena
Kata memadah di dada
Ketika luruh, memuncak
Kutahu hanya mungkin itu nanti
Kalau ini jadi hari jadi besok.
Kau usah menangis
Kala
Kesepian. Juga besok
Kehilangan

Parahyangan 1991

 

Buat Kau, Aku Tuli 17/02/1991

Filed under: para dara — sangpencintamu @ 2:19 PM

Mana ada kudengar
Ceramahnya, khotbah-khotbah orang-orang
Nasihatnya, contoh-contoh beliau-beliau
Larangannya, usil-usil mereka
celaannya, bisik-bisik mereka
cibirannya, serapah-serapah mereka
dan segala yang diciptikan semua orang.
Aku muak
Aku bosan
Aku empati
Aku tertawa, aku terlalu liar. Bah!
kuludahi. Aku tulikan telingaku
Kutusuki pendengaran dengan hanya suaramu
peduli makianmu. Ah, aku hanyut cuma
olehmu. Hempas, hempaslah aku.
Buat kau, aku tuli.

:Diah
Bulan ke-enam, Grassbioda