Aku, Kamu dan Cinta

Puisiku, Ungkapan Hatiku

Rinduku Padamu 05/12/2012

Filed under: Uncategorized — sangpencintamu @ 12:15 PM

Rinduku padamu….bertambah subur bagai tanah yang diguyur hujan
Rinduku padamu….terus bermekaran bagai bunga di musim semi
Rinduku padamu….takkan hilang seperti matahari yang terus bersinar
Rinduku padamu….terpatri indah direlung hati
Karena….rinduku padamu memberi jawaban
akan makna cinta sejati…

Advertisements
 

Aku Rindu Kamu 04/12/2012

Filed under: Uncategorized — sangpencintamu @ 12:17 PM

Aku rindu kamu
Entah apakah kamu rindu aku
Aku rindu kamu
Entah apakah kamu mau rindu aku
Aku rindu kamu
Entah apakah kamu enggan rindu aku
Aku rindu kamu
Entahlah, aku tak peduli kamu rindu aku atau kamu tidak rindu aku
Aku tetap rindu kamu

 

Kerinduan 30/11/2012

Filed under: dreW,Uncategorized — sangpencintamu @ 12:18 PM

Meski sejenak bertemu, aku bahagia bisa kembali melihatmu
Di batas-batas kerinduan dan kehampaan tak terasa airmata menetes di pipiku

Hati yang mati suri, tiba-tiba terjaga dan berkata bahwa sesungguhnya rasa masih ada
Baru kumengerti bahwa rasa tak pernah pergi dan sepertinya takkan terganti

Sekeras apapun kumencoba, selemah apapun daya tuk mengingatnya
Hati miliki pilihannya sendiri yang tak bisa diatur oleh akal

Kukira aku sudah berhenti berharap di sekian waktu yang lalu
Kukira aku tak punya lagi hasrat untuk bertemu
Kukira aku takkan lagi melihatmu seindah seperti dulu
Hingga kemarin aku tahu bahwa segalanya tak ada yang berubah
Hanya setumpuk perkiraanku saja yang salah

 

Keajaiban 27/11/2012

Filed under: Uncategorized — sangpencintamu @ 12:20 PM

Berhari hari kusimpan rinduku di awan…
Keajaiban, petang kemarin hujan menurunkannya…
Aku bertanya pada sisa hujan di kaca jendelaku…
Sudahkah ia menyentuh kamu?
Dan kamu!
Apa kamu menerima curahan rinduku?

 

Kambing-kambing Hitam dari Pabrik 08/05/1993

Filed under: Uncategorized — sangpencintamu @ 10:20 AM

-memoar Marsinah

Mengapa seolah-olah hilang janji-janji
kata-kata penuh madu dari yang berdasi
dan yang berseragam murahan
mengapa selalu jadi korban.
Lalu meletuplah rasa ketakpuasan
mereka berdiam diri, berbaris, kegiatan mandeg
sebagai protes.
:la, upahku rendah tenagaku murah
apa jadi!
Namun, pemodal berdasi tak ambil peduli
tak ambil resiko merugi
dipanggillah centeng-centeng berseragam
dengan pentungan digenggam.
Perlawanan pun timbul, mereka balas pukul
ambulan, polisi, kemudian pemadam muncul
pabrik-pabrik sebagian terbakar kemarahan
dan siapa nanti yang akan disalahkan?
Kambing-kambing hitam itulah,
sedang kepala dibelit dasi mungkir berulah
sebab di benaknya hanya ada berapa besar
asuransi yang akan membayar.
:itulah, mengapa mereka tak mau ambil pusing
selama kami tak mogok kerja, la!
Orang-orang kecil, membayangkan akhir permasalahan
dan juga selalu berarti kesalahan yang ditimpakan
satu-persatu, dengan halus dan kasar
mereka disingkirkan, kembali terlantar.
:tanpa keahlian lain, kami hanya bisa jadi buruh
pabrik demi pabrik bersuasana muram suram
la, sampai saatnya nanti kembali jadi kambing-kambing hitam.

Bandung, 1993